Sabtu, 28 Januari 2017
Kaidah dan Pemilihan Topik Investigasi
PENGANTAR
Jurnalisme investigatif secara prinsip sebenarnya sama saja dengan jurnalisme lain, namun sedikit lebih “advanced”. Jika diberi peringkat:
Jurnalisme Dasar
Jurnalisme Interpretatif (indepth reporting)
Jurnalisme Investigatif (muckraking)
Disamping itu, jurnalisme investigatif memberikan penekanan tertentu. Orang sering menyebut jurnalisme investigatif sebagai:
“Journalism with an impact”
“Reporting on public interest issues”
Untuk mencapai “impak” yang dimaksud, jurnalisme investigasi menuntut:
Pembahasan yang komprehensif (dengan konteks dan background)
Proses verifikasi yang matang (tak ada tanda tanya, tak ada lagi kata “konon” atau “kabarnya”)
Mementingkan menjawab “how” dan “why” dari elemen 5W-1H
Penulisan yang populer, lugas dan gamblang
MITOS TENTANG JURNALISME INVESTIGASI
Sulit dan canggih: Yang tersulit hanyalah bagaimana menemukan tema dan merumuskan masalah.
Mahal, membutuhkan energi besar: bisa murah dan membutuhkan sedikit energi jika kita tahu informasi lebih banyak tentang banyak hal; mampu membangun jaringan informasi dengan sumber atau lembaga lain.
Hanya cocok untuk majalah serius: di Amerika, pemenang Hadiah Pulitzer untuk kategori jurnalisme investigasi adalah koran.
Hanya menyangkut skandal politik besar (seperti Watergate): tema sehari-hari bisa pula sebenarnya menjadi tema investigasi, hal-hal menyangkut public policy dan public services, misalnya, belum banyak digarap.
Hanya menyangkut hubungan antara warga negara dengan pemerintah/politisi: di zaman sekarang, tema yang lebih banyak bisa digali justru antara masyarakat dengan bisnis besar (antara konsumen dengan produsen, antara pasien dengan dokter, antara klien dengan pengacara)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
proses
maintance
Tidak ada komentar:
Posting Komentar